Home / Artikel / Strategi Pengembangan Repositori Institusi

Strategi Pengembangan Repositori Institusi


Strategi Pengembangan Repositori Institusi

Oleh

Mansur Sutedjo (Pustakawan ITS)

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan yang demikian pesat dan luar biasa khususnya di bidang perpustakaan. Dahulu, informasi karya ilmiah local yang dihasilkan suatu institusi disimpan disuatu ruang, hanya bisa diakses manakala pengguna mendatangi institusi yang menghasilkan dan menyimpan informasi tersebut. Hadirnya teknologi penyimpanan berbasis internet yang dikenal dengan “Repositori Institusi” memungkinkan informasi karya ilmiah lokal yang semula disimpan dalam bentuk cetak (hardcopy), saat ini dapat disimpan dalam bentuk digital di sebuah server. Informasi karya ilmiah lokal yang tersimpan dapat diakses dari jarak jauh, dan dalam waktu bersamaan sebuah dokumen dapat diakses bersama oleh banyak pengguna, berbeda dengan sebelumnya hanya bias diakses satu orang pengguna. Untuk membangun dan mengembangkan suatu Repositori Institusi diperlukan Analisis Swot, benchmarking, menyiapkan sumberdaya, dukungan pimpinan, prosedur dan peraturan, perangkat keras dan lunak serta jaringan, dan manajemen untuk menangani informasi karya ilmiah lokal. Selanjutnya dilakukan sosialisasi atau workshop pemanfaatan Repositori institusi pada anggota, diperlukan monitoring, pemeliharaan data dan keamanan Repositori Institusi, agar informasi karya ilmiah lokal yang ada terjaga dari gangguan virus dan sejenisnya.

Suatu institusi atau lembaga pendidikan tinggi dan penelitian pada umumnya mampu menghasilkan informasi karya ilmiah. Informasi karya ilmiah yang dihasilkan sebuah institusi dikenal dengan sebutan informasi muatan lokal (local content information). Informasmi muatan lokal sifatnya unik dan hanya dihasilkan dan dimiliki oleh institusi penghasil informasi. Informasi muatan lokal tersebut biasanya tersimpan dalam perpustakaan sebagai lembaga deposit yang mempunyai kewenangan untuk menyimpan, mengorganisasikan dan mendistribusikan informasi yang diperoleh untuk kepentingan pemustaka. Koleksi tersebut biasanya ditempatkan di Ruang Karya Institusi dan Ruang Tugas Akhir. Agar informasi yang ada bias diakses pengguna, disediakan Katalog atau OPAC, kemudian dari nomor panggil yang didapat melalui Katalog atau OPAC pengguna baru bias mendapatkan dokumen yang diinginkan melalui staf perpustakaan/pustakawan yang bertugas. Dalam konteks ini, pengguna harus hadir ke perpustakaan untuk mendapatkan dokumennya. Hal ini kemudian menjadikan pemustaka enggan dating ke perpustakaan dengan beberapa alasan antara lain, waktu dan tempat yang terbatas dan model layanan tertutup. Belum lagi jauh-jauh dating, ternyata dokumen yang diinginkan ternyata tidak ada atau tidak dimiliki.

Sesuatu yang luar biasa terjadi dalam revolusi informasi pada musim gugur 2002, sehingga mampu mendorong setiap individu melakukan perubahan dinamis dalam hal inovasi dan kemajuan institusi, dan evolusi dalam disiplin ilmiah praktis. Pimpinan MIT (Massachussts Institusi of Technology) tahun 2003 mengembangkan dan menyebarluaskan ‘DSpace institutional repository system’ (http://www.dpace.org/). Lahirnya apa yang disebut ‘Institutional Repository’, karya ilmiah yang dihasilkan sivitas akademika seperti Tugas Akhir, Tesis, Disertasi, Artikel Ilmiah, Laporan Penelitian, Prosiding seminar dan lainnya yang semula hanya dapat diakses secara terbatas (waktu, area dan tempat), menjadi tak terbatas dengan adanya software repository dan jaringan internet. Hal ini kemudian membawa pengaruh juga dalam dunia perpustakaan yaitu perkembangan Repositori Institusi di Indonesia yang ditandai dengan munculnya GDL (Ganesha Digital Library) KMRG-ITB sekitar tahun 2004. Perpustakaan ITS juga sudah berhasil membangun “Search in Context” software repositori dengan menggunakan sumber-sumber terbuka (open source) pada tahun 2005/2006. Dengan hadirnya teknologi ‘Repositori Institusi’ dan perkembangannya, koleksi yang sebelumnya berbentuk ‘hardcopy’ atau tercetak dapat dialih mediakan menjadi digital secara mudah dengan hardware dan software tertentu baik yang sifatnya opensource maupun yang mengembangkan sendiri. Koleksi menjadi ringkas, karena dalam bentuk digital disatu sisi mempunyai keunggulan, namun disisi lalin juga mempunyai kelemahan, yaitu tidak memiliki kekuatan otentik. Suatu contoh, dokumen mengenai perjanjian (MoU) atau yang sejenisnya masih diperlukan dokumen tercetak resminya. Mengapa, karena dokumen digital rentan untuk dimodifikasi sehingga banyak pihak menyangsikan keasliannya. Selanjutnya akan dibahas tentang repository institusi dan strategi pengembangannya.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download artikelnya disini

Strategi Pengembangan Repositori Institusi


About Redaksi

Kirimkan Tulisan anda tentang semua hal yang berkaitan dengan Perpustakaan dalam bentuk Artikel, Berita, Makalah, Lowongan Kerja Pustakawan, Seminar Perpustakaan, atau yang lain yang berkaitan dengan dunia perpustakaan ke email Redaksi : bicaraperpustakaan@gmail.com | Dan Jika ingin jadi bergabung untuk menjadi PENULIS dalam situs ini silahkan mendaftar ke link berikut ini http://bicaraperpustakaan.com/wp-login.php?action=register

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *